Dosen : Ahijrah.R , S.St.Pi. M.Si
MAKALAH UU TENTANG PERIKANAN dan SPEFIKASI IKAN
Diajukan sebagai tugas mata kuliah

pengantar ilmu perikanan
Disusun oleh :
Pierre Carldine
Muhamad Zain
Muhamad Sandi
Aji Ahmad Sukron
Riko Supryanto
FAKULTAS TEKNOLOGI PENANGKAPAN IKAN
UNIVERSITAS POLITEKNIK
PONTIANAK
2014
(undang-undang
RI Nomor 45 tahun 2009 tentang perikanan (pasal yg behubungan dg hal yg
dilarang dalam penangkapan ikan)
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 45 TAHUN 2009
TENTANG
PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 31 TAHUN 2004
TENTANG PERIKANAN
NOMOR 45 TAHUN 2009
TENTANG
PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 31 TAHUN 2004
TENTANG PERIKANAN
Ada beberapa ketentuan yang berhubungan dengan sesuatu larangan dalam hal
penangkapan ikan sehingga pasal berikut mengatur apa larangannya, kewajiban
menjaga kelestarian plasma nutfah, serta besarnya sangsi yang akan diberikan.
Berikut adalah pasal-pasal yang berhubungan dengan hal
tersebut yaitu: pasal 9, 14, 85
Ketentuan Pasal 9 diubah sehingga Pasal 9 berbunyi
sebagai berikut:
sebagai berikut:
Pasal 9
(1) Setiap orang dilarang memiliki, menguasai,
membawa, dan/atau menggunakan alat
penangkapan dan/atau alat bantu penangkapan
ikan yang mengganggu dan merusak keberlanjutan
sumber daya ikan di kapal penangkap ikan di
wilayah pengelolaan perikanan Negara Republik
Indonesia.
(2) Ketentuan mengenai alat penangkapan dan/atau
alat bantu penangkapan ikan yang mengganggu
dan merusak keberlanjutan sumber daya ikan
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan
Peraturan Menteri.
(3) Alat penangkapan ikan dan/atau alat bantu
penangkapan ikan
yang mengganggu dan merusak keberlanjutan sumber daya ikan
termasuk diantaranya jaring trawl atau pukat harimau, dan/atau
kompressor.
yang mengganggu dan merusak keberlanjutan sumber daya ikan
termasuk diantaranya jaring trawl atau pukat harimau, dan/atau
kompressor.
Ketentuan Pasal 14 ayat (3) diubah, sehingga Pasal 14
berbunyi sebagai berikut:
berbunyi sebagai berikut:
Pasal 14
(1) Pemerintah mengatur dan/atau mengembangkan
pemanfaatan plasma nutfah yang berkaitan dengan
sumber daya ikan dalam rangka pelestarian
ekosistem dan pemuliaan sumber daya ikan.
(2) Setiap orang wajib melestarikan plasma nutfah
yang berkaitan dengan sumber daya ikan.
(3) Pemerintah mengendalikan pemasukan dan/atau
pengeluaran ikan jenis baru dari dan ke luar negeri
dan/atau lalu lintas antarpulau untuk menjamin
kelestarian plasma nutfah yang berkaitan dengan
sumber daya ikan.
(4) Setiap orang dilarang merusak plasma nutfah yang
berkaitan dengan sumber daya ikan.
(5) Ketentuan lebih lanjut mengenai pemanfaatan dan
pelestarian plasma nutfah sumber daya ikan
sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2), dan
ayat (3), diatur dengan Peraturan Pemerintah.
Ketentuan Pasal 85 diubah sehingga Pasal 85 berbunyi
sebagai berikut:
sebagai berikut:
Pasal 85
Setiap orang yang dengan sengaja memiliki, menguasai,
membawa, dan/atau menggunakan alat penangkap ikan
dan/atau alat bantu penangkapan ikan yang
mengganggu dan merusak keberlanjutan sumber daya
ikan di kapal penangkap ikan di wilayah pengelolaan
perikanan Negara Republik Indonesia sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 9 dipidana dengan pidana
penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling
banyak Rp2.000.000.000,00 (dua miliar rupiah).
Ichtyologi adalah suatu ilmu yang khusus mempelajari tentang ikan dan
segala aspek kehidupan ikan yang meliputi taksonomi, biologi (morfologi,
anatomi, fisiologi, genetika, reproduksi, dll) dan ekologi (struktur komunitas,
populasi, habitat, predator, dan persaingan serta penyakitnya). Ikan merupakan
binatang vertebrata yang berdarah dingin (poikiloterm), hidup di dalam
lingkungan air, pergerakan dan keseimbangan tubuhnya terutama menggunakan sirip
dan umumnya bernafas dengan insang. Setiap jenis ikan memiliki ciri-ciri taksonomi
biologis dan ekologis yang spesifik meskipun ada beberapa kemiripan ikan yang
merupakan objek dalam mata kuliah ichtyologi, dalam mempelajarinya diperlukan
pendekatan baik secara kasat mata (ekternal anatomy), bagian dalam tubuh
(internal anatomy) dan organ tambahan yang dimiliki oleh beberapa jenis ikan.
Struktur internal dan eksternal ikan memberi gambaran bentuk tubuh dan bagian
tubuh ikan yang akan menunjukkan pola makan, membedakan jenis kelamin, dan
diagnosis penyakit. Pola makan yang dimiliki oleh suatu jenis ikan akan memberi
acuan dalam hal fasilitas dan tipe budidaya yang akan digunakan dalam kultur
jenis ikan tersebut. Selain itu, bentuk tubuh dan bagian tubuh ikan juga
memberikan acuan dalam pengelompokkan tipe ikan yang berguna dalam klasifikasi.
Ichtyologi merupakan ilmu pengetahuan yang tidak dapat dipisahkan dalam dunia
perikanan. Ichtyologi mampu memberikan gambaran ikan secara lengkap kepada
dunia perikanan baik secara external maupun internal, tidak hanya sekedar
anatomi ikan saja. Oleh karena itu banyak kepentingan dunia perikanan yang
dipelajari dan dipecahkan dengan bersumber dari ichtyologi.
Penggolongan Ikan dan Spesifikasi
Spesifikasi dan taksonomi merupakan salah satu hal penting dalam
mempelajari ilmu perikanan. Mempelajari taksonomi berarti mengetahui
pengelompokan suatu individu berdasarkan perbedaan dan persamaannya sedangkan
taksonomi mempelajari tentang asal usul suatu individu.
A. Identifikasi dalam tingkat analitis
Identifikasi yang dilakukan merupakan identifikasi untuk mengenal ciri-ciri
baik secara biologi maupun deskriptif dari suatu jenis ikan. Biasanya yang
digunakan sebagai dasar dalam melakukan identifikasi adalah:
1. Rumus sirip, yaitu rumus yang
menggambarkan bentuk dan .jumlah jari-jari sirip dan bentuk sirip yang
merupakan ciri khusus.
2. Perbandingan antara panjang, lebar dan
tinggi dari bagian-bagian tertentu atau antara bagian-bagian itu sendiri yang
merupakan ciri umum.
3. Bentuk garis rusuk dan jumlah sisik
yang membentuk garis rusuk.
4. Bentuk sirip dan gigi
5. Tulang-tulang insang
Selama praktikum dilakukan beberapa jenis identifikasi
pada beberapa jenis ikan yang terdiri atas:
1) Penghitungan jari-jari sirip
Sirip pada ikan terdiri dan pinna caudalis, dorsalis, pectoralis,
vertbralis dan analis. Sirip-sirip tersebut tersusun atas jari jari sirip yang
bersifa keras, lemah dan lemah mengeras. Tiap jenis sirip memiliki semua jenis
jari-jari sirip tersebut atau hanya sebagian saja.
Penulisan jari jari sirip dikodekan berdasarkan letak sirip tersebut pada
tubuh ikan. Jumlah jari-jari sirip dituliskan dalam angka Romawi besar untuk
jari-jari sirip keras, angka Romawi kecil untuk jari-jari sirip lemah mengeras
dan angka Arab untuk jari jari sirip lemah.
2) Garis rusuk lateral (Linea lateralis)
Salah satu obyek dalam sifat meristik adalah menghitung jumlah sisik yang
ditalui oleh linea lateralis (1:1). Penghitungan sisik pada linea lateralis ini
dimulai dari ujung anterior operculum terbelakang dan berakhir pada bagian
caudal peduncle atau pangkal batang ekor. Jika terdapat lebih dari satu linea
lateralis maka yang dihitung adalah yang sisik yang terletak di tengah.
Seadainya linea lateralis tidak jelas ataupun tidak ada maka dihitung jumlah
sisik di tempat biasanya garis rusuk tersebut berada.
3) Pengukuran tubuh ikan.
Ukuran dan perbandingan ukuran tubuh ikan dapat digunakan untuk melakukan
penggolongan. Ukuran-ukuran ikan yang digunakan adalah:
a. Panjang total atau Total length (TL) diukur dari bagian mulut paling
anterior sampai bagian sirip ekor paling posterior.
b. Panjang baku atau Standard length (SL) diukur dari bagian mulut paling
anterior sampai pangkal batang ekor (caudal penducle)
c. Panjang sampai lekuk ekor atau l,‘ork length (FL) diukur dari bagian
paling anterior sampai lekukan sirip ekor.
d. Panjang kepala atau Head length (HdL) diukur dari bagian kepala paling
anterior sampai tutup insang paling posterior,
e. Panjang predorsal atau Pre-dorsal length (PreDL) diukur dari bagian
kepala paling anterior sampai bagian anterior dasar sirip dorsal.
f. Panjang hidung atau Snout length (SntL) diukur dari bagian kepala paling
anterior sampai kelopak mata paling anterior.
g. Panjang orbital belakang atau Post orbital length (Post-orbL) diukur
dari bagian kelopak mata paling posterior sampai bagian tutup insang paling
posterior.
h. Panjang mata atau Eve length (EyeL) diukur garis tengah dari rongga
mata.
i. Panjang orbital atau Orbital length (OrbL) diukur jarak diantara kedua
bagian terluar kelopak mata.
j. Panjang pangkal ekor atau Caudal penducle length (CPedL) diukur dari
posterior dasar sirip anal sampai bagian pangkal batang ekor.
k. Tinggi badan adalah jarak terbesar antara dorsal dan ventral
l. Tinggi kepala adalah panjang garis tegak antara pertengahan kepala
sebelah atas dengan pertengahan kepala sebelah bawah.
m. Tebal badan adalah jarak terbesar antara kedua sisi badan.
n. Tebal atau lebar kepala adalah jarak terbesar antara kedua keeping tutup
insang pada kedua sisi kepala.
o. Tinggi pipi adalah jarak antara ringga mata dan bagian paling anterior
dari keeping tutup insang terdepan (praeoperculum).
p. Tinggi bawah mata adalah jarak antara puiggir•an bawah rongga mata
dengan rahang bawah.
q. Panjang rahang atas/bawah adalah jarak yang diukur dari ujung paling
anterior sampai ujung paling posterior bertemu dengan badan, diukur melalui
dasar sirip.
r. Panjang dasar sirip dadalperut adalah panjang terbesar menurut arah
jari-jari sirip, dari pangkal sirip dada/sirip perut sampai puncak tertinggi
sirip tersebut.
s. Tinggi sirip punggung adalah jarak antara pangkal sirip sampai puncak
sirip.
B. Identifikasi dalam tingkat sintesis
Selain melakukan identifikasi dari suatu jenis ikan
ikan langkah selanjutnya adalah menyusun kelompok - kelompok yang lebih tinggi
dan menetapkan ciri - cirinya sehingga dapat diperoleh suatu klasifikasi untuk
jenis ikan tersebut.
Morfologi Ikan
Ikan, didefinisikan. secara umum sebagai hewan yang hidup di air, bertulang
belakang, poikiloterm, bergerak dengan menggunakan ship, bernafas dengan
insang, dan memiliki gurat sisi (linea lateralis) sebagai organ
keseimbangannya.
Bagian tubuh ikan mulai dari anterior sampai posterior
berturut - turut adalah :
1) Kepala (caput) : bagian tubuh mulai dari ujung
mulut sampai nnbagian belakang operculum.
2) Tubuh (truncus) : bagian tubuh mulai dari Batas
akhir operculum nnsampai anus
3) Ekor (cauda) : dari anus sampai bagian ujung sirip
ekor
BENTUK TUBUH
Kebanyakan ikan memiliki bentuk tubuh streamline dimana tubuh bagian
anterior dan posterior mengerucut dan bila dilihat secara transversal,
penampang tubuh seperti tetesan air. Penampang tubuh tersebut akan memberikan
kemudahan ikan dalam menembus air sebagai media hidup. Bentuk tubuh tersebut
biasanya dikatakan sebagai bentuk tubuh ideal (fusiform). Penampang tubuh ideal
tersebut ditunjukkan pada Gambar di bawah ini.
Secara umum, bentuk tubuh ikan terbagi atas enam jenis
yang terdiri dari :
1. Datar (flat/depressed)
Contoh : pari (Dasyatis sp),
ikan sebelah (Pseudopleuronectes americanus)
2. Ideal (Fusiform, streamline)
Contoh : hiu (Carcharinus leucas),
salmon, barracuda, tuna
3. Eel-like (elongated)
Contoh : lele (Clarias bathracus),
4. Pipih (ke bawah = depressed dan ke samping =
compressed) Contoh : angel fish, butterfly fire
5. Bulat (rounded)
Contoh : buntal
6. Pita (ribbon)
Contoh : layur
LETAK MULUT (cavum oris)
Mulut pada ikan memiliki berbagai bentuk dan posisi yang tergantung dari
kebiasaan makan dan kesukaan pada makanannya (feeding dan foot habits).
Perbedaan bentuk dan posisi mulut ini juga kadang diikuti dengan keberadaan
gigi dan perbedaan bentuk gigi pada ikan. Bentuk mulut pada ikan dapat
digolongkan dalam :
1. Mulut terminal, yaitu posisi mulut berada di bagian
ujung kepala
2. Mulut inferior, yaitu posisi mulut berada di bagian
agak bawah ujung kepala
3. Mulut superior, yaitu posisi mulut berada di bagian
agak atas ujung kepala
ORGAN GERAK (SIRIP)
Ikan seperti pada hewan lain, melakukan gerakan dengan dukungan alat gerak.
Pada ikan, alat gerak yang utama dalam melakukan manuver di dalam air adalah
sirip. Sirip ikan juga dapat digunakan sebagai sumber data untuk identifikasi
karena setiap sirip suatu spesies ikan memiliki jumlah yang berbeda dan hal ini
disebabkan oleh evolusi.
Sirip pada ikan terdiri dari beberapa bagian yang
dinamakan sesuai dengan letak sirip tersebut berada pada tubuh ikan, yaitu :
1. Pinna dorsalis (dorsal fin)
Adalah sirip yang berada di bagian dorsal tubuh ikan dan berfungsi dalam
stabilitas ikan ketika berenang. Bersama-sama dengan pinna analis membantu ikan
untuk bergerak memutar.
1. Pinna pectoralis (pectoral fin)Adalah sirip yang terletak di posterior
operculum atau pada pertengahan tinggi pada kedua sisi tubuh ikan. Fungsi sirip
ini adalah untuk pergerakan maju, ke samping dan diam (mengerem).
2. Pinna ventralis (ventral fin)Adalah sirip yang berada pada bagian perut.
ikan dan berfungsi dalam membantu menstabilkan ikan saat berenang. Selain itu,
juga berfungsi dalam membantu untuk menetapkan posisi ikan pada suatu
kedalaman.
3. Pinna analis (anal fin)Adalah sirip yang berada pada bagian ventral
tubuh di daerah posterior anal. Fungsi sirip ini adalah membantu dalam
stabilitas berenang ikan.
4. Pinna caudalis (caudal fin)Adalah sirip ikan yang berada di bagian
posterior tubuh dan biasanya disebut sebagai ekor. Pada sebagian besar ikan,
sirip ini berfungsi sebagai pendorong utama ketika berenang (maju) clan juga
sebagai kemudi ketika bermanuver.
5. Adipose finAdalah sirip yang keberadaannya tidak pada semua jenis ikan.
Letak sirip ini adalah pada dorsal tubuh, sedikit di depan pinna caudalis.
Sirip ikan terdiri dari tiga jenis jari-jari sirip
yang hanya sebagian atau seluruhnya dimiliki oleh spesies ikan, yaitu :
1. Jari-jari sirip keras
Merupakan jari jari sirip yang tidak berbuku-buku dan
keras.
2. Jari jari sirip lemah
Merupakan jari jari sirip yang dapat ditekuk, lemah,
dan berbukubuku.
3. Jari jari sirip lemah mengeras
Merupakan jari jari sirip yang keras tetapi
berbuku-buku.
Penggolongan ikan juga dapat dilakukan berdasarkan
tipe pinna caudalis yang dimiliki suatu jenis ikan. Tipe pinna caudalis ikan
secara umum terbagi atas :
1. Protocercal
Merupakan bentuk pinna caudalis yang tumpul dan
simetris dimana columna vertebralis terakhir mencapai ujung ekor.
2. Diphycercal
Merupakan bentuk pinna caudalis yang membulat atau
meruncing, simetris dengan ruas vertebrae terakhir tidak mencapai ujung sirip.
2 Heterocercal
Merupakan bentuk pinna caudalis yang simetris dengan
sebagian ujung ventral lebih pendek.
3 Homocercal
Merupakan bentuk pinna caudalis yang berlekuk atau
tidak dan ditunjang oleh jari-jari sirip ekor.
GURAT SISI (linea lateralis)
Linea lateralis merupakan salah satu bagian tubuh ikan yang dapat dilihat
secara langsung sebagai garis yang gelap di sepanjang kedua sisi tubuh ikan
mulai dari posterior operculum sampai pangkal ekor (peduncle). Pada linea lateralis
terdapat lubang-lubang yang berfungsi untuk menghubungkan kondisi luar tubuh
dengan sistem canal yang menampung sel-sel sensori dan pembuluh syaraf.
Linea lateralis sangat penting keberadaannya sebagai organ sensori ikan
yang dapat mendeteksi perubahan gelombang air dan listrik. Selain itu, linea
lateralis juga juga berfungsi sebagai echo-location yang membantu ikan untuk
mengidentifikasi lingkungan sekitamya.
Pada beberapa jenis ikan, termasuk golongan Characin, linea lateralis
merupakan satu garis panjang yang tidak terputus. Sedangkan pada kelompok ikan
Cichlidae, linea lateralis yang dimiliki merupakan garis panjang yang terputus
menjadi dua dengan potongan kedua berada di bagian bawah potongan pertama.
Sistem Integumen
Sistem integumen pada seluruh mahluk hidup merupakan bagian tubuh yang
berhubungan langsung dengan lingkungan luar tempat mahluk hidup tersebut
berada. Pada sistem integumen terdapat sejumlah organ atau straktur dengan
fungsi yang beraneka pada bermacam-macam jenis mahluk hidup.
Yang termasuk dalam sistem integumen pada ikan adalah kulit dan derivat
integumen. Kulit merupakan lapisan penutup tubuh yang terdiri dari dua lapisan,
yaitu epidermis pada lapisan terluar dan dermis pada lapisan dalam. Derivat
integumen merupakan suatu struktur yang secara embryogenetik berasal dari salah
satu atau kedua lapisan kulit yang sebenarnya.
Sistem integumen yang berhubungan langsung dengan lingkungan tempat hidup
memiliki berbagai fungsi yang sangat vital pada kehidupan ikan, yaitu :
1. Pertahanan fisik
Merupakan fungsi utama dari integument yaitu sebagai pertahanan pertama
dari infeksi, paparan sinar ultra violet [UV] dan gesekan tubuh dengan air atau
benda keras lainnya. Hal ini disebabkan karena kulit memiliki kelenjar mukosa sebagai
pelindung kulit dari parasit, bakteri dan mikroorganisme merugikan lainnya
serta memperkecil gesekan dengan adanya sifat mucus yang licin.
2. Keseimbangan cairan [air]
Keseimbangan cairan dilakukan oleh integumen kelompok amphibian dan ikan
memiliki sistem tersendiri dalam proses keseimbangan cairan yaitu dengan
menggunakan insangnya.
3. Thermoregulasi
Thermoregulasi dilakukan oleh vertebrata dengan jalan
memasukkan dan mengeluarkan panas secara bergantian melalui aliran darah pada
kulit.
4. Warna
Warna yang ada pada integurnen ikan digunakan sebagai alat komunikasi,
tingkah laku seksual, peringatan dan penyamaran untuk mengelabui predator.
Warna yang dihasilkan akan berbeda-beda yang disebabkan karena perbedaan tempat
hidup dari ikan tersebut. Pada open-water fishes, warna tubuh ikan terbagi atas
warna keperakan di bagian ventral dan warna iridescent biru atau hijau di
bagian dorsal [countershading]. Ada tiga macam warna dominan ikan yang hidup di lautan, yaitu keperakan bagi ikan yang hidup di permukaan laut, kemerahan
pada ikan yang hidup di daerah tengah perairan dan violet atau gelap pada ikan
yang hidup di dasar perairan.
5. Pergerakan
Pergerakan ikan dipengaruhi pula oleh keberadaan sisik
yang membantu dalam meningkatkan kemampuan berenang ikan yang menghadapi
halangan kuat.
6. Respirasi
Respirasi ikan tidak menggunakan kulit sebagai sarananya tetapi dilakukan
oleh golongan Amphibian. Hal ini dilakukan karena kulit merupakan lapisan yang
relatif tipis, selalu basah dan terdapat banyak pembuluh darah sehingga
pertukaran oksigen dan karbondioksida dapat berlangsung.
7. Kelenjar kulit
Pada kulit terdapat kelenjar yang memungkinkan ikan dapat mengeluarkan
pheromone untuk menarik pasangannya dan sebagai alat untuk menetapkan daerah
territorial. Selain itu, kelenjar kulit juga dapat menghasilkan zat-zat racun
yang berguna untuk mencari mangsa ataupun untuk pertahanan din’ dari predator.
8. Kelenjar susu
Kelenjar susu lebih banyak ditemukan pada vertebrata yang bersifat
(terrestrial, meskipun. demikian pada ikan yang bersifat mamalia kelenjar
tersebut juga berfungsi dengan baik.
9. Keseimbanaan garam
Keseimbangan garam [homeostatis] pada ikan dilakukan pada kulit dan insang
yaitu dengan pengaturan kadar garam cairan tubuh ikan [osmoregulasi] sehingga
cairan dalam tubuh akan tetap stabil sesuai dengan lingkungan dimana ikan
berada. Pada ikan yang hidup di laut, kulit akan menjaga pengeluaran cairan
dalam tubuh yang berlebihan sedangkan pada ikan yang hidup di perairan tawar,
kulit akan mengatur agar cairan dari luar tubuh tidak terlalu banyak yang masuk
ke dalam tubuh. Selain itu, kulit berperan dalam proses ekskresi hasil
metabolisme yang dilakukan oleh tubuh.
10. Organ inderaKulit memiliki sel-sel yang berfungsi sebagai reseptor dari
stimulus lingkungan, misalnya panas, sakit clan s ntuhan. Derivat integumen
seperti barbels dan flaps memiliki sel-sel svaraf sebagai indera (`vambar 21).
Barbels berlungsi sebagai alat bantu makan dan mengandung organ-organ sensory
serta sebagai alat untuk kamuflase pada ikan demikian juga flaps. Barbels ini
ada yang berbentuk seperti alga. Letak dari barbels ada pada hidung, bibir,
dagu, sudut mulut dengan bentuk rambut, pecut, sembulan, bulu dan lain-lain.
Derivat sisik yang dapat ditemui adalah modifikasi sisik placoid membentuk
gigi Shark, kelenjar racun pada Dasyatidae. Selain itu terdapat juga bentukan
barbells clan flaps selain organ cahaya.
Jenis sisik yang duniliki ikan dapat dibagi atas
bahan-bahan pembentukannva, yaitu:
1. Sisik Placoid, yaitti sisik yang biasa dimiliki oleh kelompok
Elasmobranchii dan disebut dermal denticle. Sisik ini terbentuk seperti pada
gigi manusia dimana bagian ectodermalnya memiliki lapisan email yang disebut
sebagai vitrodentin dan lapisan dalamnya ‘disebut dentine yang berisi pembuluh
dentinal.
2. Sisik Cosmoid, yaitu sisik yang memiliki bagian terluar disebut
vitrodentilie, lapisan bawahnya disebut cosinine dan bagian terdalam terdapat
pefilbuluh darah, syaraf dan substansi tulang isopedine.
3. Sisik Ganoid, yaitu sisik yang memiliki lapisan terluar b erupa
pemunpukan garani-garam anorganik yang disebut ganoine. Bagian dalamaya
terdapat substansi tulang isopedine.
4. Cycloid dan Ctenoid, yaitu sisik yang tidak mengandung dentine. Dua
jenis sisik ini paling banyak ditemui pada kebanyakan ikan.
Pengelompokan sisik selain berdasarkan bahan
penyusunnya juga didasarkan atas bentuk sisik tersebut, yaitu:
1. Sisik Placoid, merupakan sisik yang tumbuhnya
saling berdamputgan atau sebelah menyebelah dengan pola tumbuh mencuat dari
kulitnya.
2. Sisik Rhombic, merupakan sisik yang berbentuk belah
ketupat dengan pertumbuhan yang sebelah menyebelah.
3. Sisik Cycloid, merupakan sisik yang bentuknya
melingkar dimana didalamnya terdapat garis-garis melingkar disebut circulii,
anulii, radii, dan focus.
4. Sisik Ctenoid, merupakan sisik yang memiliki stenii
pada bagian posteriornya dan bentukan sisir pada bagian anteriornya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar